Sampah yang Mencerdaskan


Tulisan ini mengantarkan pembaca untuk membuka mata dalam mempertajam melihat suatu benda yang sebelumnya tidak bernilai guna, kemudian berdaya guna. Sampah tutup galon merupakan fokus dari perhatian penulis. Benda yang biasanya berserak disekitar kita ini, atau bahkan terkadang menyumbat aliran air di musim hujan pada selokan kita, penulis tawarkan untuk digunakan sebagai bahan pembuatan sempoa. Sampah yang mencerdaskan merupakan pernyataan penulis, yang dalam kaitannya menggunakan sampah tutup galon sebagai bahan untuk membuat manik-manik yang dapat digerakkan, seperti yang terdapat dalam sempoa. Tulisan ini memuat tentang lima hal, yaitul; desa kehidupan, usaha air minum, sampah produksi air minum kemasan, daur ulang sampah, dan sampah yang mencerdaskan. 

Desa Kehidupan 

Desa Pekalongan merupakan satu dari tiga puluh desa yang ada di kecamatan Winong. Secara geografis, desa ini terletak dipusat pemerintahan Kecamatan Winong. Saat ini, desa Pekalongan menjadi jantung pertanian, pendidikan, dan ekonomi teramai di kawasan Pati selatan.

Bentangan sawah yang luas, dengan irigasi yang rapi, mengantarkan kegembiraan petani di desa ini dalam panen padi setahun hingga dua kali. Delapan lembaga pendidikan formal pun berdiri di atas tanah desa Pekalongan ini. Pendidikan non-formalpun demikian, tercatat sebagian dari lembaga pendidikan tersebut, memiliki pondok pesantren dan lembaga bimbingan belajar sejenis. Dalam tujuh tahun terakhir ini, lembaga ekonomi di desa Pekalongan terbilang berkembang pesat. Terlihat disepanjang jalan raya desa Pekalongan, berdiri banyak dan ragam jenis pertokoan.  

Usaha Air Minum 


Desa Pekalongan dahulu termasuk bagian dari Kawedanan Jakenan. Kawasan selatan desa ini sebagian wilayahnya didominasi dengan Pegunungan Kapur Utara. Sehingga kualitas air di desa ini cenderung berkapur. Untuk memenuhi kebutuhan air minum, masyarakat memilih air kemasan sebagai air minum. 

Selain di pasok air minum merek nasional yang populer, air minum kemasan juga diproduksi di desa ini. Terdapat lima usaha air minum dalam kemasan di desa Pekalongan. Lima usaha air minum kemasan tersebut diatanya; Idas, Barokah, Maudawa, dan Air Berzam-zam. Air yang dikemas dalam galon air ini, sebagian besar adalah hasil penyulingan dari air pegunungan yang bebas dari kadar kapur. 

Tabel. Usaha Air Minum Dalam Kemasan di Desa Pekalongan

 Sumber: Wawancara dengan pemilik air minum dalam kemasan, bulan Mei 2012 

Berdasarkan data produksi pada usaha isi air kemasan di atas, konsumen air minum kemasan di desa Pekalongan cukup tinggi. Diperkiraan sejumlah 500 galon air minum, dikonsumsi oleh masyarakat Pekalongan. 


Sampah Produksi Air Minum Kemasan 

Usaha air minum kemasan di desa Pekalongan cukup menjanjikan. Usaha produksi air minum kemasan diperkiraan lebih dari 500 galon perhari. Dalam proses produksi air minum kemasan ini, mengahasilkan air minum layak dan sampah plastik bekas tutup galon air. Semakin banyak produksi air minum kemasan, semakin banyak pula tutup galon air pascapakai.

Berdasarkan kunjungan penulis pada empat usaha air minum dalam kemasan, tutup galon pascapakai banyak ditemui disekitar lokasi usaha. Dengan terminologi lingkungan, tutup galon air isi ulang ini, dapat dikategorikan sebagai sampah. Berdasarkan bentuknya, sampah tutup galon ini  termasuk sampah padat. Selanjutnya, berdasarkan kemampuan urai, sampah tutup galon ini termasuk sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi (non-biodegradable). Namun sampah ini bersifat recyclable, yaitu sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomi.

Tabel. Tindakan terhadap sampah tutup galon

 Sumber: Wawancara dengan pemilik air minum dalam kemasan, bulan Mei 2012


Dari data tindakan terhadap sampah tutup galon, para pemilik usaha air minum dalam kemasan di desa Pekalongan, tindakannya berbeda-beda. Pemilik air kemasan merek Idas, memandang bahwa tutup galon bekas itu milik pekerjanya. Sampah tutup dikumpulkan dan dikemas dalam wadah platik, kemudian di tumpuk dibelakang rumah. Pada saatnya nanti, ketika mendekati hari raya Idul Fitri, sampah tutup galon dijual. Uang hasil penjulan itu menjadi milik dari pekerja.

Berbeda dengan air minum kemasan merek Barokah, yang mana sampah tutup galon dijual kepada pengepul. Pemilik Barokah menjelaskan bahwa sampah tutup galon biasanya diambil pengepul dari Pati, kemudian didaur ulang menjadi tutup galon lagi. Jika uang penjualan sampah tutup galon air kemasan merek Idas diberikan pekerjanya, hal ini tidak berlaku untuk sampah tutup kemasan merek Barokah. Uang hasil penjualan sampah galon dimiliki oleh pemiliknya. Adapun sampah tutup galon pada pemilik Air ber-Zam-zam, dijual kepada pemulung. Sampah tutup galon dibarter dengan piring. Satu kantong plastik sampah tutup galon, ditukar dengan tiga piring.

Daur ulang sampah

Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru (Wikipedia, 2012). Dalam sumber sama menegaskan, daur ulang juga merupakan salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (Reuse, Reduce, and Recycle).

Keberadaan sampah tutup galon dari pemilik usaha air minum kemasan di desa Pekalongan, cenderung tidak dilakukan dengan tindakan daur ulang. Sampah tutup galon di jual kepada pengepul dan pemulung. Masyarakat sekitar usaha air minum kemasan tampaknya juga belum memanfaatkan sampah tutup galon untuk di daur ulang menjadi perkakas berfungsi guna. Padahal dengan mendaur ulang sampah tutup galon, setidaknya mengurangi proses pembuatan barang baru. Dan tentu saja, ada hubungan antara pengusaha dan masyarakat yang nantinya diharapkan saling menguntungkan, sekaligus mengurangi perilaku boros dalam menggunakan bahan baku ada di muka bumi ini.

Sampah yang mencerdaskan

Berdasarkan bentuknya, sampah tutup galon adalah bundar namun berlubang. Jika dua buah sampah tutup galon digabungkan, akan menyerupai roda atau menyerupai manik-manik yang bisa digerakkan. Dewasa ini, salah satu media belajar yang diyakini mampu mencerdaskan mentar aritmatika anak adalah sempoa. Menurut Wikipedia (2012) sempoa merupakan alat kuno untuk berhitung yang dibuat dari rangka kayu dengan sederetan poros berisi manik-manik yang bisa digeser-geserkan. Dengan demikian, maka tutup sampah galon dapat digunakan untuk membuat manik-manik yang bisa digerakkan, sebagaimana nantinya akan menjadi sempoa.

Sejalan dengan semangat daur ulang, tampaknya sampah tutup galon dapat digunakan sebagai bahan baku untuk membuat manik-manik yang terdapat dalam sempoa. Tentu saja dengan membuat sempoa dari sampah tutup galon, kita telah memanfaatkan sampah menjadi alat yang mencerdaskan. Sempoa yang terbuat dari sampah tutup galon sama akan berfungi untuk mencerdaskan mental aritmatika anak yang selama ini menjadi kendala dalam proses permbelajaran menghitung.